Hati yang Sempurna
Tuesday, October 2nd, 2007Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di
tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang
ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua
mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak
ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu
sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke
depan dan berkata “ Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku ?”.
Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu.
Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas
luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang
lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada
sisi-sisi potongan yang tidak rata.
Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak
ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana
mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah ?
Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang
dimilikinya dan tertawa “ Anda pasti bercanda, pak tua”, katanya,
“bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan
hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan”. “ Ya”, kata pak
tua itu, “ hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan
menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah
tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek
sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali
mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali
sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama,
ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu
mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan.
Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang
yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal
itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta
kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan,
mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada
orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan
kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau
keindahan hati yang sesungguhnya itu ?”

Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya.
Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda
dan indah, and merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan
hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu
menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil
sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian
menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas,
tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata.
Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi
kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu
telah mengalir ke dalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan
berjalan beriringan.
Sumber : Romi Syawie,MM :[e-source: world wide web]